Search for?
Kategori Buku
Anda pengunjung ke
sejak 1 Juli 2009
Sejarah

Balai Pustaka resmi berdiri pada 22 September 1917 sebagai kelanjutan Commisie voor Inlandsche School en Volklectuur yang dibentuk 14 September 1908. Puluhan buku dan majalah diterbitkan saat itu dalam bahasa Melayu dan berbagai bahasa daerah. Para sastrawan dan tokoh pergerakan seperti Abdoel Moeis dan berbagai bahasa daerah. Para sastrawan dan tokoh pergerakan seperti Abdoel Moeis memanfaatkannya untuk membangkitkan kesadaran kebangsaan hingga lahir Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Budayawan Marah Rusli, Muhammad Yamin, Idrus, Hamka, hingga Sutan Takdir Alisjahbana juga menyebarkan pikiran kebangsaan melalui lembaga ini.
Sebelum merdeka, Balai Pustaka telah membangun sekitar 2.800 Taman Bacaan Rakyat. Selanjutnya Balai Pustaka menjadi pilar sastra dan budaya bangsa yang melibatkan sosok dan budaya bangsa yang melibatkan sosok seperti HB Yassin hingga Achdiat K.Mihardja, juga menjadi sarana negara untuk menyediakan buku-buku pendidikan. Pada 2008, manajemen baru melakukan transformasi yang meneguhkan kembali Balai Pustaka sebagai korporasi pelestari dan pengembang budaya. Sebuah posisi yang juga berperan membangun karakter bangsa. Disinilah kontribusi Balai Pustaka sebagai institusi 'warisan budaya' bangsa dalam mengantarkan Indonesia pada masa depan yang jaya.
Buku Terlaris
-
Salah Pilih
Roman adat Minangkabau ini mengisahkan sepasang anak manusia yang bertalian darah. Mula-mula...... -
Cinta Bersemi di Seberang Tembok
Yusuf mempunyai hubungan batin dengan seorang gadis Cina. Kesulitan datang dari berbagai pihak,...... -
Petunjuk Praktis bagi Pasangan Muda
Dambaan setiap orang yang sudah mempunyai usia matang adalah menikah. Berbagai persiapan...... -
Airlangga
Karya salah seorang sastrawan Angkatan Pujangga Baru ini mengisahkan pertentangan batin antara......

